Jumat, 21 Oktober 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BAKAT

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BAKAT
Bakat merupakan potensi yang masih harus dikembangkan dengan kemampuan yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu banyak faktor yang dapat mempengaruhi apakah bakat itu dapat berkembang sesuai dengan apa yang kita harapkan atau tidak.
Ada beberapa teori yang membahas tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi bakat, yaitu :

A.  Teori Nativisme
Teori ini ini dikemukakan oleh Schopenhauer, yang menyatakan bahwa perkembangan manusia itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktor keturunan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu pada waktu dilahirkan.
Teori ini dikuatkan dengan adanya penemuan-penemuan di bidang genetika yang menemukan adanya kromosom di dalam diri manusia, dan selanjutnya kromosom tersebut memecah diri menjadi partikel yang lebih kecil yang disebut gen; di mana gen ini diyakini sebagai pembawa sifat-sifat keturunan anak.
Para ahli yang mengikuti pendirian ini biasanya mempertahankan kebenaran konsep ini dengan menunjukkan secara empiris adanya berbagai kemiripan antara orang tua dengan anak-anaknya.
Misalnya :
kalau orang tuanya ahli musik maka kemungkinan besar anaknya juga akan menjadi ahli musik, dll.
Akan tetapi teori ini masih diragukan karena mempertimbangkan apakah benar kemiripan bakat orang tua dengan anaknya itu semata-mata hanya karena faktor keturunan dan tidak ada faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi, misalnya fasilitas-fasilitas di lingkungan, dll?.

B.  Teori Empirisme
Teori ini dikemukakan oleh John Locke yang terkenal dengan teori “tabularasa”nya. Teori Empirisme, menyatakan bahwa perkembangan seorang individu semata-mata ditentukan oleh faktor lingkungan atau pengalaman-pengalaman yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Pengalaman di sini, termasuk di dalamnya pendidikan formal, interaksi dengan orang lain, keadaan alam atau obat-obatan / terapi.
Menurut teori ini juga faktor lingkungan merupakan variabel satu-satunya yang dapat digunakan untuk mempengaruhi/merubah tingkah laku agar sesuai dengan yang diinginkan. Para ahli yang mengikuti konsep ini mempertahankan kebenarannya dengan menunjukkan secara empiris, misalnya dengan menunjukkan salah satu hasil penelitiannya yang mengemukakan bahwa perkembangan dan kemampuan verbal pada diri seorang anak merupakan hasil proses mempelajari sesuatu yang diperoleh dari luar/proses belajar.
Adapun faktor-faktor, kondisi dan variabel-variabel dari lingkungan yang turut mempengaruhi perkembangan bakat, antara lain :



1. Lingkungan
a.  Keluarga
b. Pendidikan / Edukatif
c. Sosial
2. Kematangan (Readiness)
a. Struktur syaraf dan otot (motorik)
b. Kemampuan kognisi (pengertian/pemahaman)
c. Kemampuan Afeksi (emosi)
3. Variabel Psikologis
a. Interest atau Minat
b. Motivasi

c. Konsep diri

D. Teori Konvergensi
Teori ini dikemukakan oleh William Stern, yang menyatakan bahwa di dalam perkembangan individu baik faktor dasar atau pembawaan (nativus) maupun faktor lingkungan (empiris) sama-sama memainkan peranan penting. Dalam hal ini William Stern membuktikan teorinya melalui hasil penelitiannya terhadap anak-anak kembar di Hamburg. Dilihat dari genetika, anak-anak kembar tersebut memang memiliki sifat/karakter yang dapat dikatakan mirip satu sama lain, tetapi jika anak-anak kembar tersebut diasuh dalam lingkungan yang berbeda maka pengaruh lingkungan akan membuat mereka berbeda satu sama lain.
Dibandingkan dengan teori sebelumnya, teori konvergensi ini merupakan teori yang dapat diterima oleh para ahli pada umumnya. Hanya yang menjadi pertanyaan adalah belum adanya satu kesepakatan dari para ahli tentang “mana yang dominan dalam mempengaruhi perkembangan individu?; apakah faktor keturunan ataukah faktor lingkungan?”. Untuk menjawab pertanyaan ini Anne Anastasi dalam Majalah Psychology Review (dikutip Gunarsah, 1985), memberikan solusi dengan menunjukkan interaksi saling mempengaruhi yang meliputi dasar-dasar :
1. Bahwa faktor keturunan dan faktor lingkungan keduanya menjadi sumber timbulnya setiap
    perkembangan tingkah laku.
2. Bahwa keduanya tidak bisa berfungsi secara terpisah tetapi saling berhubungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar